Ketika Dosen Tak Cukup Hanya Mengejar: Pentingnya Jiwa Marketing di Kampus
Perubahan dunia pendidikan tinggi hari ini terjadi jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan banyak kampus dalam meresponsnya. Jika dulu perguruan tinggi bisa berjalan dengan pola lama mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat kini realitasnya jauh lebih kompleks. Tridarma tetap penting, tetapi tidak lagi cukup. Kampus dan dosen dituntut beradaptasi dengan cara berpikir baru agar tetap relevan dan bertahan.Salah satu kenyataan yang sering dihindari untuk dibicarakan adalah soal mahasiswa. Program studi tanpa mahasiswa bukan sekadar masalah akademik, tetapi masalah keberlangsungan. Tidak ada kelas, tidak ada dinamika pembelajaran, dan pada akhirnya tidak ada ruang bagi dosen untuk menjalankan perannya secara utuh. Dalam kondisi tertentu, dosen harus menghadapi pilihan sulit: pindah program studi atau pensiun lebih awal. Ini bukan ancaman, melainkan konsekuensi dari sistem pendidikan tinggi yang semakin kompetitif dan terbuka.
Pola pikir calon mahasiswa juga telah berubah drastis. Generasi hari ini hidup di era digital, era citra dan persepsi. Mereka memilih kampus bukan hanya berdasarkan kualitas akademik yang sering kali sulit mereka ukur, tetapi berdasarkan apa yang terlihat di media sosial, website kampus, pemberitaan, dan figur-figur yang muncul di ruang publik. Kampus yang sering muncul dan memiliki narasi kuat akan lebih mudah menarik perhatian dibandingkan kampus yang bekerja baik tetapi nyaris tak terdengar.
Di sinilah peran dosen menjadi sangat penting. Dosen tidak lagi cukup menjadi pengajar di dalam kelas, tetapi juga harus berani tampil sebagai wajah kampus. Ketika dosen aktif menulis di media, berbagi gagasan, terlibat dalam diskusi publik, dan menunjukkan kepakarannya, kepercayaan masyarakat terhadap kampus ikut meningkat. Personal branding dosen bukan tentang pencitraan berlebihan, melainkan tentang menunjukkan nilai dan kontribusi akademik kepada publik.
Sayangnya, istilah marketing masih sering dianggap tabu di lingkungan akademik. Marketing kerap disamakan dengan menjual, padahal dalam konteks pendidikan, marketing adalah cara mengomunikasikan nilai. Ilmu yang baik, riset yang berkualitas, dan pengabdian yang berdampak tidak akan berarti banyak jika tidak pernah diketahui masyarakat. Tanpa komunikasi yang baik, kualitas hanya akan tersimpan di laporan dan arsip.
Kondisi ini semakin terasa bagi perguruan tinggi swasta, terutama yang berada di daerah. Ketika kebijakan pendidikan tinggi cenderung menekankan peningkatan jumlah mahasiswa di perguruan tinggi negeri, banyak perguruan tinggi swasta justru harus berjuang keras untuk bertahan. Bukan karena mereka tidak berkualitas, tetapi karena kalah dalam persepsi dan kekuatan branding. Dalam situasi seperti ini, dosen tidak bisa hanya mengandalkan loyalitas, tetapi juga strategi.
Dosen perlu membangun kesadaran baru bahwa dirinya adalah aset utama kampus. Dengan keahlian yang dimiliki, dosen dapat menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat. Menulis opini, aktif dalam kegiatan sosial, hadir di ruang digital secara konsisten, dan berbicara sesuai bidang keilmuan adalah bagian dari peran dosen masa kini. Inilah yang bisa disebut sebagai bagian dari pancadarma perguruan tinggi, yakni tridarma yang diperkuat dengan jiwa marketing dan personal branding.
Pancadarma bukanlah pengingkaran terhadap nilai akademik, melainkan bentuk adaptasi agar nilai tersebut tetap hidup. Kampus yang kuat adalah kampus yang dosen-dosennya dikenal, dipercaya, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mencari gelar, tetapi juga figur yang mampu menginspirasi dan membimbing masa depan mereka.
Kita perlu jujur mengakui bahwa mahasiswa hari ini memilih kampus dengan cara yang berbeda. Mereka mencari kampus yang terlihat menjanjikan, komunikatif, dan relevan dengan dunia nyata. Jika dosen memilih diam dan menjauh dari ruang publik, maka ruang tersebut akan diisi oleh pihak lain yang belum tentu memiliki kompetensi akademik yang memadai.
Pada akhirnya, perubahan ini menuntut keberanian. Dosen perlu bertransformasi dari sekadar pelaksana tridarma menjadi penggerak pancadarma. Dari pengajar di kelas menjadi duta intelektual di ruang publik. Ketika dosen kuat dan adaptif, program studi akan hidup. Ketika program studi hidup, kampus akan bertahan. Dan ketika kampus bertahan, misi mencerdaskan kehidupan bangsa tetap dapat dijalankan.
Personal branding dosen bukan soal popularitas, tetapi soal tanggung jawab zaman. Dunia terus bergerak, dan pendidikan tinggi tidak boleh tertinggal. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah dosen perlu memahami marketing, tetapi seberapa cepat dosen berani berubah agar tetap relevan di masa depan.
Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom, SE., MSE
Dekan FEB Universitas Islam Lamongan (UNISLA)


